Inspirasi Bisnis: Perjalanan Coco Craft Lombok, UMKM Alumni IM Japan yang Mendunia

Coco Craft Lombok

Berbekal pengalaman magang di Jepang, seorang alumni IM Japan asal Lombok membuktikan bahwa keterampilan dan etos kerja yang dibawa pulang ke Tanah Air bisa menjadi fondasi bisnis berkelanjutan. Melalui usaha bernama Coco Craft Lombok, limbah batok kelapa diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi dan menembus pasar internasional.

Pemilik Coco Craft Lombok, Yusri, merupakan alumni IM Japan angkatan 1996 yang memulai usahanya sepulang dari program magang di Jepang.

Berawal dari Magang Jepang, Lahir Usaha Mandiri

Yusri menuturkan bahwa ide usaha Coco Craft Lombok muncul setelah ia kembali ke Indonesia usai menjalani magang di Jepang. Pengalaman kerja, kedisiplinan, serta keterampilan selama magang menjadi bekal utama untuk membangun usaha kerajinan secara mandiri.

Usaha ini secara resmi mulai dijalankan sejak tahun 2010 dan terus berkembang hingga saat ini. Fokus utama Coco Craft Lombok adalah memanfaatkan batok kelapa yang tidak terpakai menjadi produk kerajinan bernilai seni dan fungsi.

Ragam Produk Kerajinan dari Batok Kelapa

Coco Craft Lombok menghasilkan berbagai produk kerajinan berbahan dasar batok kelapa, antara lain:

  • Tempat sabun dan tempat sampo untuk hotel
  • Gelas dan wadah perhiasan
  • Nampan hias yang juga dapat digunakan sebagai tempat buah
  • Sumpit kayu yang diminati pasar luar negeri

Sebagian produk bersifat dekoratif, sementara lainnya digunakan secara fungsional, terutama untuk kebutuhan hotel dan dekorasi interior.

Menembus Pasar Internasional

Produk Coco Craft Lombok tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga menjangkau pasar internasional. Yusri menyebutkan bahwa pembeli berasal dari berbagai negara, seperti Jerman, Prancis, Spanyol, dan Jepang.

Menariknya, sebagian pembeli luar negeri datang langsung ke Lombok untuk memesan produk dalam jumlah besar, berkisar antara 400 hingga 500 unit per pesanan.

Proses Produksi dan Harga Terjangkau

Dalam proses produksinya, satu produk kerajinan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 hari, mulai dari pemilihan batok kelapa mentah hingga tahap finishing. Untuk satu produk tertentu, dapat digunakan sekitar dua batok kelapa yang disambung dan dibentuk secara manual.

Meski telah menembus pasar internasional, harga produk Coco Craft Lombok tergolong terjangkau. Beberapa produk dibanderol mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000 per unit, tergantung jenis dan bentuknya.

Omzet dan Keberlanjutan Usaha

Dari sisi pendapatan, Yusri mengungkapkan bahwa omzet Coco Craft Lombok mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan, dengan sebagian besar penjualan berasal dari pasar internasional.

Usaha ini telah berjalan lebih dari 15 tahun dan dinilai stabil. Meski demikian, Yusri mengaku tidak secara rinci menghitung total omzet, karena usaha dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.

Selain aktif menjalankan usaha, Yusri juga tercatat sebagai anggota IKAPEKSI, wadah resmi alumni pemagangan Jepang di Indonesia. Melalui keanggotaannya di IKAPEKSI, ia berharap Coco Craft Lombok dapat semakin berkembang lewat jejaring alumni, kolaborasi usaha, serta dukungan promosi agar produk kerajinan lokal berbahan batok kelapa ini makin dikenal luas, baik di dalam negeri maupun pasar internasional.

Harapan dan Peluang Kemitraan

Ke depan, Yusri berharap Coco Craft Lombok dapat semakin berkembang melalui dukungan promosi dan jejaring komunitas alumni. Ia juga membuka peluang kemitraan sebagai reseller bagi pihak yang ingin bekerja sama, dengan penawaran harga khusus.

Penutup

Kisah Coco Craft Lombok menjadi contoh nyata bahwa alumni IM Japan mampu mengubah pengalaman magang menjadi usaha produktif di dalam negeri. Dengan memadukan keterampilan, kreativitas, dan pemanfaatan bahan lokal, Coco Craft Lombok tidak hanya menciptakan produk bernilai jual, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan.

id_ID